Harp ininde
In WarBabalar evlerine mahçup döndü her akşam
Harp içinde.
Anaların sütü kesildi,
Çocuklar ağladı,
Erkekler askere gitti.
Kadınlar bir deri bir kemik.
Harp içinde kızlar sarardı.
Savaşanlardansa
Ancak bir hatıra kaldı.
Fathers went home feeling ashamed every evening
In war
Breast milk was cut
Children cried
Men went into army
Women just skin and bones
Girls turned pale in war
Just a memory remained
from warriors.
Cahit Kulebi
Perang dalam perang
Para ayah merasa malu dengan rumah mereka setiap malamDalam peperanganSusu analis dipotong,Anak-anak menangis,Orang-orang pergi ke tentara.Wanita adalah kulit tulang.Gadis-gadis itu dalam perang.
Ini adalah salah satu dari orang-orang yang berjuangTapi ada ingatan.
Ayah pulang merasa malu setiap malamDalam peperanganASI dipotongTeriak anakOrang-orang pergi ke tentaraWanita hanya kulit dan tulang belulangGadis-gadis menjadi pucat dalam perang
Tinggal kenangan sajadari pejuang.
Cahit Kulebi
Cahit KulebiSen Yokken
When You Weren't HereSen yokken gittim
Korkularimin üstüne
Hiç ardima bakmadim
Gümüs siirler yazdim sen yokken
Çok yangin çikti yüregimde
Küllerini bile savurmadim
Irak denizlerin firtinasiydim
Uzak iklimlerin sert rüzgarlari
Kulaçlarken denizinde gurbeti
Kanli savaslarim,
Belali sevdalarim olmadi hiç
Ama hep sustum,
Hep agladim, hep yandim sen yokken.
Bekliyorum dönüsünü yeniden,
Bir gelsen,
Hayatin önünden alsan beni
Bir gelsen,
Sellerin önünden alsan beni
Bir gelsen,
Ölümlü düslerimden alsan beni.
Çok durdum günese karsi bir basima
Savrulurdum rüzgarlarinda sensizlik denizinin
Sen yokken,
Az dolasmadim gönlümün kuytularinda
Üsüyen karanfilim simdi burusuk parmaklarda
Bir kiragi ayaziydim gecenin kollarinda
Zifirlerinde sadece ben üsürdüm.
Hiç aldirmadim esen rüzgara
Hiç dinlenmis bir yürekle çikmadim ortaya
Yinede hiç yikilmadim giden trenlerin ardindan
Ama bütün yanginlar beni yakti önce
Hep ortasinda kaldim vurgunlarin
Vurgun nedir ki? deme
Bir babanin serzenisi nasilsa öyle
Bayraklari indirilmis,
Bozguna ugramis bir hisardim sen yokken
Hep sustum,
Hep yandim, hep agladim sen yokken.
Bir gelsen,
Yanginlardan alsan beni,
Bir gelsen,
Dünyalarimdan alsan beni,
Bir gelsen,
Safaksiz gecelerden alsan beni,
Ama ne zaman gelsen,
Aksam kizili gözlerimle bulacaksin beni
Ketika Anda werent di sini, saya pergi
atas ketakutan saya
Aku tidak pernah melihat ke belakang
puisi perak, saya tulis saat anda werent disini
banyak api yang ada di hatiku
bahkan tidak membuang abunya
adalah badai laut lepas
angin kencang dari iklim yang jauh
sambil berenang di tempat asing di laut
perang berdarah saya
urusan yang merepotkan, tidak pernah ada
Meski begitu, saya selalu diam,
selalu menangis, selalu terbakar saat kamu tidak disini
menunggu kepulanganmu lagi,
Oh, kamu datang
dan mengambil aku dari kehidupan
Oh, kamu datang
dan membawa saya infront banjir
Oh kamu datang
dan membawa saya dari mimpi fana saya
berkali-kali saya berdiri melawan matahari sendirian
bertebaran di tengah angin laut "bersamamu"
saat kamu tidak disini
Berjalan berkali-kali di kedalaman hatiku
Cengkehku yang gemetar sekarang dengan jari memar
terasa dingin di malam hari
Dalam kegelapan hanya aku yang kedinginan
tidak pernah peduli angin bertiup
tidak pernah muncul dengan hati yang beristirahat
meski tidak pernah hancur setelah mengikuti kereta api
Namun setiap kebakaran membakar saya sebelumnya
selalu tinggal di tengah tikungan
apa yang ditekuk? jangan tanya
seperti bagaimana ayah mencela
Bendera diturunkan
sebuah kastil yang kalah saat aku tidak berada di sini
selalu diam
selalu dibakar, selalu menangis saat kamu tidak disini
oh kamu datang
dan membawa saya dari api
oh kamu datang
dan bawa aku dari duniaku
kamu datang
dan membawa saya dari malam tidak fajar
meskipun kapan pun kamu datang
akan menemukan saya dengan mata merah malam
Copyright ©
puisi japan | Powered by
Blogger